24 Truk Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Boyolali
Sebanyak 24 truk operasional Koperasi Desa Merah Putih tiba di Boyolali dan mulai dibagikan kepada pengurus KDMP.
Ilustrasi kekerasan seksual anak./Pixabay-Ulrike Mai
Harianjogja.com, SOLO — Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan oknum dosen di Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Peristiwa yang terjadi pada 2022 itu mencuat kembali usai korban membagikan kronologi kejadian melalui platform Threads.
Unggahan tersebut menarik perhatian luas warganet dan memicu diskusi terkait penanganan kasus kekerasan seksual di lingkungan akademik. Dalam keterangannya, korban menceritakan pengalaman tidak menyenangkan saat berada di dalam kereta api rute Surabaya menuju Jogja pada Juli 2022.
Menurut pengakuannya, pelaku yang duduk di sebelahnya awalnya bersikap ramah sebelum kemudian melakukan tindakan fisik yang membuat korban merasa tidak nyaman. Situasi semakin membuat korban ketakutan hingga ia memilih turun terakhir di stasiun tujuan. Namun, dugaan tindakan pelecehan disebut masih berlanjut saat korban berada di area stasiun.
Kasus tersebut kemudian dilaporkan, meski korban mengaku sempat merasa proses penanganannya berjalan lambat dan kurang transparan. Ia baru memperoleh kejelasan setelah berkomunikasi dengan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) UNS dalam pertemuan daring beberapa waktu lalu.
Menanggapi hal ini, pihak kampus melalui Sekretaris Universitas sekaligus juru bicara UNS, Agus Riwanto, membenarkan bahwa laporan telah diterima sejak Desember 2022.
Ia menjelaskan, Satgas PPKS UNS langsung melakukan pemeriksaan terhadap terduga pelaku dan korban beberapa hari setelah laporan masuk. Dalam proses tersebut, oknum dosen berinisial S disebut telah mengakui perbuatannya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, pelaku dinyatakan melanggar ketentuan dalam Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 serta peraturan internal kampus terkait pencegahan dan penanganan kekerasan seksual.
Sebagai tindak lanjut, rektorat UNS telah menjatuhkan sanksi administratif kepada yang bersangkutan pada Februari 2023. Sanksi tersebut berupa teguran tertulis serta kewajiban membuat pernyataan penyesalan, komitmen tidak mengulangi perbuatan, dan permintaan maaf kepada korban.
Terkait keluhan korban mengenai kurangnya informasi, Agus menyampaikan bahwa pihak kampus telah melakukan pertemuan langsung dengan korban pada April 2026 untuk memberikan salinan keputusan resmi terkait sanksi tersebut.
Ia menegaskan UNS tidak mentoleransi segala bentuk kekerasan seksual di lingkungan kampus dan berkomitmen menjaga keamanan serta kenyamanan seluruh civitas akademika.
Kasus ini kembali menjadi pengingat pentingnya transparansi dan respons cepat dalam penanganan dugaan kekerasan seksual, terutama di lingkungan pendidikan tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Sebanyak 24 truk operasional Koperasi Desa Merah Putih tiba di Boyolali dan mulai dibagikan kepada pengurus KDMP.
Meutya Hafid mengungkap hampir 200 ribu anak di Indonesia terpapar judi online, termasuk 80 ribu anak di bawah usia 10 tahun.
Mentan Amran melepas ekspor pupuk urea ke Australia senilai Rp7 triliun untuk memperkuat industri pupuk nasional dan pasar global.
Gereja Katedral Jakarta menggelar empat sesi misa Kenaikan Yesus Kristus, Polda Metro Jaya amankan 860 tempat ibadah.
ILRC mencatat kasus femisida seksual di Indonesia meningkat pada 2025. Korban didominasi anak perempuan hingga perempuan muda.
Aktivitas parkir bus wisata di Eks Menara Kopi Kotabaru Jogja melonjak saat libur panjang, bisa tembus lebih dari 35 bus per hari.