Arah Baru Pembangunan Magelang Mulai Disusun dari Pendopo
RKPD Magelang 2027 fokus pada SDM dan ekonomi inklusif dengan target pertumbuhan 5,16 persen dan penurunan kemiskinan
Ibu-ibu KWT Sehati Desa Sumberejo, Ngablak, Kabupaten Magelang menunjukkan keripik sawi produksi mereka, Senin (29/6/2026)./Harian Jogja-Nina Atmasari
Harianjogja.com, MAGELANG— Anjloknya harga sawi saat panen raya mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Sehati di Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, berinovasi mengolah hasil panen menjadi keripik sawi. Langkah tersebut menjadi solusi untuk meningkatkan nilai jual komoditas sekaligus menambah pendapatan keluarga petani.
Di lereng Gunung Merbabu, hamparan tanaman sawi tumbuh subur hampir sepanjang tahun. Namun, melimpahnya produksi tidak selalu membawa keuntungan. Saat pasokan membanjiri pasar, harga sawi dapat merosot hingga hanya Rp500 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi atau harga pokok produksi (HPP) yang mencapai sekitar Rp1.500 per kilogram. Kondisi itu membuat petani kerap hanya mampu menutup biaya tanam, bahkan mengalami kerugian.
Berangkat dari persoalan tersebut, ibu-ibu petani yang tergabung dalam KWT Sehati mulai mencari cara agar hasil panen memiliki nilai tambah. Dari dapur sederhana, mereka kemudian mengembangkan produk keripik sawi dengan merek Kraukk! sebagai alternatif olahan yang memiliki daya jual lebih tinggi.
"Nama Kraukk! kami pilih karena bunyinya seperti saat keripik dimakan, kriuk-kriuk," ujar Ketua Gapoktan Desa Sumberejo, Siyono, Senin (29/6/2026).
Keripik sawi tersebut kini dipasarkan dalam empat varian rasa, yakni original, balado, barbeque, dan jagung manis. Produk ini menjadi bukti bahwa sawi tidak hanya dapat dijual sebagai sayuran segar, tetapi juga mampu diolah menjadi produk pangan bernilai ekonomi lebih tinggi.
Menurut Siyono, Desa Sumberejo merupakan salah satu sentra produksi sawi di Kecamatan Ngablak. Setiap petani mampu menghasilkan sekitar satu hingga tiga ton sawi setiap hari. Dengan ratusan petani yang menanam komoditas tersebut, pasokan sering kali melampaui daya serap pasar yang hanya sekitar 25 ton per hari sehingga harga mudah tertekan.
"Kalau harga bagus bisa mencapai Rp9.000 per kilogram, tetapi rata-rata hanya sekitar Rp1.500 sampai Rp2.000. Bahkan saat panen raya pernah turun sampai Rp500 per kilogram," katanya.
KWT Sehati mulai merintis usaha keripik sawi pada 2022 dengan dukungan berbagai pihak. Kini, sebanyak 10 anggota yang seluruhnya merupakan ibu-ibu petani secara rutin memproduksi camilan tersebut.
Proses pembuatannya diawali dengan memilih daun sawi berkualitas, kemudian dipotong, dicuci, dilapisi adonan tepung berbumbu, lalu digoreng hingga renyah. Hasil akhirnya berupa keripik yang mampu bertahan hingga empat bulan tanpa mengurangi cita rasa.
Produk Kraukk! juga telah mengantongi izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), sertifikat halal, serta informasi nilai gizi pada kemasannya. Saat ini, proses pendaftaran hak merek masih berlangsung.
Dalam sehari, KWT Sehati mampu mengolah sekitar 25 kilogram sawi menjadi keripik. Setiap bulan mereka memproduksi sekitar 500 hingga 700 bungkus berukuran 100 gram yang dipasarkan dengan harga Rp18.000 per bungkus langsung dari lokasi produksi.
Keripik sawi Magelang tersebut kini telah dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh di Kabupaten Magelang. Meski demikian, para anggota KWT Sehati masih berharap memperoleh pendampingan pemasaran agar produk mereka dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
"Kami ingin produk ini bisa dikenal lebih banyak orang sehingga semakin banyak hasil panen petani yang memiliki nilai tambah," kata Siyono.
Bagi anggota KWT Sehati, usaha pengolahan sawi tidak sekadar menjadi aktivitas tambahan, melainkan juga membuka sumber penghasilan baru bagi keluarga petani.
Salah seorang anggota KWT Sehati, Fitriani, mengatakan seluruh anggota merupakan ibu-ibu petani yang tetap mengelola lahan pertanian mereka setiap hari.
"Awalnya kami hanya bertani di ladang milik sendiri. Sekarang kami juga membuat keripik sawi bersama-sama," ujarnya.
Hasil penjualan produk tidak langsung dibagikan seluruhnya. Sebagian digunakan sebagai modal produksi berikutnya, sedangkan sisanya ditabung dan dibagikan kepada anggota saat Lebaran maupun bulan Sapar untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Selama menjalankan usaha, KWT Sehati juga memperoleh dukungan dari Dinas Pertanian Kabupaten Magelang melalui berbagai pelatihan, mulai dari pengemasan produk hingga keikutsertaan dalam pameran produk lokal. Hingga kini, mereka masih berupaya mewujudkan impian memiliki rumah produksi sendiri karena proses produksi masih berlangsung di tempat sewa sehingga kapasitas pengolahan keripik sawi belum dapat ditingkatkan secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
RKPD Magelang 2027 fokus pada SDM dan ekonomi inklusif dengan target pertumbuhan 5,16 persen dan penurunan kemiskinan
Jogging Track Lapangan Paseban Bantul telah mencapai progres 90 persen dan ditargetkan rampung akhir Juni sebelum dibuka untuk masyarakat.
Danantara akan membangun 141.000 hunian vertikal di lahan hibah Meikarta seluas 30 hektare untuk mendukung program 3 juta rumah.
Polres Bantul mengungkap penipuan bermodus modal usaha Rp80 juta. Korban kehilangan dua mobil dan BPKB dengan kerugian sekitar Rp100 juta.
Polisi memeriksa kontraktor dan sejumlah saksi untuk mengusut tewasnya bocah 4 tahun yang terjatuh ke lubang proyek di Tebet, Jakarta Selatan.
BMKG menyiapkan operasi modifikasi cuaca pada awal Oktober untuk menjaga pasokan air waduk dan mengantisipasi kekeringan di Pulau Jawa.