Semarak Budaya Borobudur Hadirkan Pentas Seni 8 Jam Tanpa Jeda

Nina Atmasari
Nina Atmasari Kamis, 15 Oktober 2026 06:17 WIB
Semarak Budaya Borobudur Hadirkan Pentas Seni 8 Jam Tanpa Jeda

konferensi pers Semarak Budaya Borobudur 2026 di Kampung Seni Borobudur, Rabu (14/10/2026). /Harian Jogja-Nina Atmasari

Harianjogja.com, MAGELANG — Sebanyak 20 desa di kawasan Borobudur, Kabupaten Magelang, akan berkolaborasi dalam Semarak Budaya Borobudur 2026 yang menghadirkan pentas seni selama delapan jam tanpa jeda. Perhelatan ini akan digelar di Amfiteater Kampung Seni Borobudur, Minggu (18/10/2026), mulai pukul 14.30 hingga 22.00 WIB, dengan jeda hanya saat azan Magrib.

Koordinator Semarak Budaya Borobudur 2026, Muhamad Jafar Qoir, mengatakan acara tersebut menjadi ruang bagi komunitas seni dari 20 desa untuk menampilkan karya yang telah mereka persiapkan, sekaligus memperkuat ekosistem kebudayaan di kawasan Borobudur.

“Fokus kami adalah panggung utama yang tidak ada jeda. Persembahan tidak putus, karya yang ditujukan secara tulus kepada masyarakat,” kata Jafar, dalam konferensi pers di Kampung Seni Borobudur, Rabu (14/10/2026).

Menurut dia, setiap komunitas akan menyuguhkan karya baru yang memadukan seni tari dan musik dengan iringan gamelan yang dimainkan secara langsung. Kolaborasi tersebut diharapkan menjadi persembahan bersama bagi masyarakat sekaligus menunjukkan potensi seni budaya yang tumbuh di desa-desa sekitar Borobudur.

Ia menyebut Semarak Budaya Borobudur sebagai wujud gotong royong masyarakat dalam menghasilkan karya seni. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan pelaku seni, tetapi juga komunitas yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian cagar budaya.

Pihaknya berharap acara tersebut dapat berkembang menjadi agenda tahunan dan masuk dalam kalender kegiatan wisata Borobudur. Selain menghibur masyarakat sekitar, pertunjukan seni pada malam hari diharapkan menambah pilihan aktivitas wisatawan yang selama ini lebih banyak berkunjung untuk menikmati objek wisata pada siang hari.

"Dengan demikian, wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk melihat Candi Borobudur, tetapi juga memperpanjang waktu tinggal dan turut menggerakkan perekonomian masyarakat di kawasan sekitarnya," katanya.

Gabungkan Seni Tradisional dan Kontemporer

Perwakilan komunitas Aksaya Budaya Mbudurun, Muhammad Zulfikar Malik, mengatakan karya dari berbagai komunitas telah dikurasi agar menjadi satu rangkaian pertunjukan yang utuh. Setiap penampilan disusun secara berkesinambungan sehingga panggung tetap hidup sepanjang acara.

"Untuk memperkuat visual pertunjukan, penyelenggara juga berupaya meminimalkan penggunaan media visual dan mengoptimalkan ornamen berbahan ramah lingkungan, seperti bambu, jerami, dan padi," katanya.

Sementara itu, Muhammad Cahya Wicaksana dari Sanggar Sangha Candrawara mengatakan pihaknya akan menampilkan tari Dharmapraja Jaya Negoro. Karya tersebut mengisahkan prajurit yang berlatih dan bertugas menjaga kerajaan atau negara demi terciptanya kedamaian.

Menurut Cahya, tarian itu membawa pesan tentang solidaritas, upaya menjaga keharmonisan kehidupan, serta hubungan manusia dengan alam semesta. Karya tersebut menggabungkan unsur tari tradisional dan kontemporer dan akan dipentaskan untuk pertama kalinya dalam Semarak Budaya Borobudur 2026.

Berpotensi Jadi Festival Seni Tahunan

Perwakilan manajemen Taman Wisata Borobudur, Didik Ardianto, mengapresiasi inisiatif penyelenggaraan Semarak Budaya Borobudur yang melibatkan komunitas dan masyarakat dari berbagai desa. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi rintisan festival seni budaya yang berkembang secara berkelanjutan.

“Kalau di Yogyakarta itu ada Festival Kesenian Yogyakarta, kiranya ini menjadi rintisan. Dalam jangka panjang kita bisa menyamai kegiatan kesenian yang berskala lokal namun mendunia,” ujarnya.

Didik menilai, kekuatan seni budaya lokal dapat menjadi daya tarik tambahan untuk mengembangkan Borobudur sebagai destinasi wisata berkelas dunia. Kampung Seni Borobudur memiliki fasilitas amfiteater berkapasitas hampir 700 penonton, dengan latar perbukitan Menoreh yang memperkuat suasana pertunjukan.

"Pengembangan kegiatan seni di lokasi tersebut dinilai berpotensi memperkaya pengalaman wisatawan, sekaligus mendorong mereka tinggal lebih lama di Borobudur dan sekitarnya," katanya.

Adapun rangkaian pertunjukan Semarak Budaya Borobudur 2026 meliputi Pagelaran Sanggar Seni Lemah Urip, Aswa Wanodya Drohaka dari Sanggar Tari Omah Guyub, Funrun Budaya Mbudurun, Dharmapraja Jaya Negoro dari Sanggar Sangha Candrawara, Djaga Bhumi Wanara dari Sanggar Tirta Kedhaton, serta Srawung Obah berupa flashmob.

Acara juga menampilkan Keroncong Purirama, Macengcong dari Avadana Dance Studio, Tari Dewi Sri dari Sanggar Sakya Art, Lampah Lempung dari Sanggar Seni Lemah Urip, Warok Nyenengke dari Kesenian Kampung Seni Borobudur, dan Minak Koncer dari Bhekso Turonggo Mudho.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online