Advertisement

Kasus Leptospirosis Klaten Melejit Sepanjang 2025, 27 Warga Meninggal

Taufik Sidik Prakoso
Minggu, 18 Januari 2026 - 06:27 WIB
Sunartono
Kasus Leptospirosis Klaten Melejit Sepanjang 2025, 27 Warga Meninggal Leptospirosis / Ilustrasi Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, KLATEN—Kasus leptospirosis di Kabupaten Klaten menunjukkan lonjakan tajam sepanjang 2025. Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten mencatat sebanyak 27 warga meninggal dunia akibat penyakit infeksi bakteri zoonosis tersebut, meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Data Dinkes Klaten menunjukkan pada 2024 terdapat 37 kasus leptospirosis dengan sembilan kematian. Sementara itu, sepanjang 2025 angka kematian melonjak hampir tiga kali lipat, menandakan peningkatan risiko penyakit yang serius bagi masyarakat.

Advertisement

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Leptospira. Penyakit ini ditularkan melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus, kemudian menyebar melalui air atau tanah yang telah terkontaminasi bakteri tersebut.

Kepala Dinkes Klaten, Anggit Budiarto, menjelaskan tingginya kasus leptospirosis pada 2025 tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang sangat mendukung berkembangnya bakteri. Menurutnya, faktor kelembapan tanah menjadi salah satu pemicu utama.

“Memang angka kasus leptospirosis di Klaten pada 2025 sangat tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 37 kasus,” ujar Anggit, Sabtu (17/1/2026).

Ia menjelaskan, bakteri Leptospira dapat bertahan hidup lebih lama di lingkungan dengan kondisi tanah becek dan lembap. Situasi tersebut banyak dijumpai di area pertanian dan permukiman tertentu di Klaten.

“Kalau tanahnya kering, bakteri tidak bisa bertahan lama. Namun jika tanah dalam kondisi becek, bakteri Leptospira bisa hidup lebih lama dan berisiko menginfeksi manusia,” jelasnya.

Penularan penyakit ini dapat terjadi melalui luka kecil di kulit yang sering kali tidak disadari. Risiko meningkat saat masyarakat beraktivitas di sawah, kebun, atau lingkungan yang basah dan lembap.

Upaya Pencegahan dan Imbauan Dinkes

Untuk menekan angka penularan, Dinkes Klaten melakukan berbagai langkah pencegahan, salah satunya dengan pengendalian populasi tikus di area pertanian dan lingkungan permukiman. Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengelola sampah dengan baik agar tidak menjadi sumber makanan tikus.

“Jangan meninggalkan sisa makanan atau membuang sampah secara terbuka karena dapat menarik tikus. Biasanya di area seperti itu juga kondisinya becek, sehingga berisiko menjadi tempat penularan,” ujar Anggit.

Anggit juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala awal leptospirosis. Penyakit ini kerap terlambat ditangani karena gejalanya menyerupai keluhan ringan.

“Gejalanya antara lain nyeri di betis dan paha belakang. Banyak masyarakat, khususnya petani, menganggapnya sebagai kelelahan setelah bekerja. Jika dalam dua hari gejala tidak membaik, segera periksakan diri ke pelayanan kesehatan,” tegasnya.

Tingginya angka kematian akibat leptospirosis pada 2025, lanjut Anggit, dipicu oleh keterlambatan penanganan medis. Berdasarkan laporan rumah sakit, sebagian besar pasien datang dalam kondisi sudah berat.

“Sebagian pasien datang dengan kondisi yang sudah parah, bahkan mengalami gangguan atau kerusakan ginjal,” ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Espos

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Pencarian Pesawat ATR Jogja-Makassar Dilanjutkan Hari Ini

Pencarian Pesawat ATR Jogja-Makassar Dilanjutkan Hari Ini

News
| Minggu, 18 Januari 2026, 08:17 WIB

Advertisement

Museum Iptek Hainan Dibuka, Tawarkan Wisata Sains Imersif

Museum Iptek Hainan Dibuka, Tawarkan Wisata Sains Imersif

Wisata
| Sabtu, 17 Januari 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement