Advertisement
Ndalem Padmosusastro Solo Diratakan, Jejak Pujangga Jawa Hilang
Bangunan bersejarah Ndalem Padmosusastro di Solo dibongkar. Situs Kapujanggan Jawa yang berstatus ODCB ini diduga dirusak sepihak di tengah sengketa lahan. - Espo.
Advertisement
Harianjogja.com, SOLO—Jejak sejarah kesusastraan Jawa di Kota Solo kembali tergerus setelah bangunan Ndalem Padmosusastro di Jalan Ronggowarsito No. 153, Timuran, Banjarsari, diratakan dengan tanah pada Kamis (22/1/2026). Situs yang dikenal sebagai Kapujanggan Jawa itu kini lenyap, menyisakan puing-puing kayu kuno dan kegelisahan para pemerhati budaya.
Pantauan di lokasi pada Kamis sore menunjukkan pembongkaran dilakukan secara masif. Bangunan utama yang selama ini menjadi simbol warisan pemikiran pujangga Jawa telah hilang sepenuhnya. Potongan kayu tua berserakan di halaman, sementara para pekerja terus mengangkut sisa bangunan menggunakan truk bermuatan besar.
Advertisement
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proses perobohan bangunan tersebut sebenarnya telah dimulai sejak Rabu (21/1/2026). Padahal, Ndalem Padmosusastro bukan sekadar rumah lama, melainkan peninggalan Ki Padmosusastro, tokoh sastra Jawa yang merupakan murid dari pujangga besar Keraton Surakarta, RNg Ronggowarsito.
Mantan pengelola Ndalem Padmosusastro, Fawarti Gendra Nata Utami, mengaku terkejut saat mengetahui bangunan tersebut telah dihancurkan. Ia menyayangkan pembongkaran yang dilakukan secara sepihak terhadap situs yang memiliki nilai penting bagi sejarah kesusastraan Jawa.
BACA JUGA
“Jujur saya baru mendapat informasi dari teman yang kebetulan melintas. Katanya ada banyak tukang dan bangunan sudah hancur. Setelah saya cek, ternyata benar, bahkan bangunan dalem sudah tidak tersisa. Keprihatinan saya, ini seharusnya situs yang diselamatkan karena merupakan Situs Kapujanggan, peninggalan pujangga terakhir Keraton Solo,” ujar Fawarti saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis.
Status Cagar Budaya
Fawarti menegaskan, meskipun terdapat sengketa kepemilikan lahan di internal keluarga, Ndalem Padmosusastro sejatinya memiliki status yang semestinya dilindungi. Menurutnya, bangunan tersebut telah tercatat dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Solo sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).
“Itu tercatat sebagai diduga cagar budaya, ada SK dan nomor urutnya. Saya bahkan pernah mengupayakan pembebasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) karena status Bangunan Cagar Budaya tersebut dan berhasil. Artinya, secara administratif statusnya diakui,” tegasnya.
Perempuan yang dipercaya Trah Besar Padmosusastro untuk mengelola situs tersebut selama sekitar lima tahun terakhir ini menjelaskan bahwa kompleks Ndalem Padmosusastro memiliki luas kurang lebih 2.000 meter persegi dan dahulu berfungsi sebagai ruang publik yang hidup.
Di area tersebut berdiri sejumlah bangunan penunjang kegiatan budaya, seperti pendapa, bangunan dalem, tujuh gazebo, serta langgar yang kerap digunakan untuk aktivitas seni dan kebudayaan.
Trah Besar Tidak Mengetahui
Terkait penyebab pembongkaran, Fawarti menduga tindakan ini berkaitan dengan sengketa tanah antarahli waris. Namun, ia menilai eksekusi fisik bangunan dilakukan tanpa sepengetahuan Trah Besar Padmosusastro yang bermukim di Jakarta.
“Menurut saya ini tindakan sepihak. Apa pun persoalannya, entah sengketa atau hal lain, kalau sudah sampai pada penghancuran seperti ini rasanya tidak tepat. Saya sudah konfirmasi ke Trah Besar di Jakarta dan ternyata mereka juga belum mengetahui,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sebelumnya Trah Besar masih berupaya mencari jalan keluar agar Ndalem Padmosusastro tetap dapat diselamatkan dan difungsikan sebagai pusat kegiatan kebudayaan, meskipun terdapat persoalan hukum terkait kepemilikan lahan.
“Dulu sempat ada prasasti penanda cagar budaya di pagar depan, tetapi dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Sekarang, bukan hanya penandanya, bangunannya pun sudah hilang,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Espos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Seleksi Petugas Haji 2026: Menhaj Tekankan Integritas dan Sanksi Tegas
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Teras Merapi Glagaharjo Legal, Sasar Sambungkan Rute Jip Merapi
- Tragedi N-Max Bonceng Tiga: Dua Pelajar Tewas di Sanden Bantul
- Petani Pesisir Gunungkidul Mulai Panen Padi Gogo di Lahan Kering
- Keselamatan Terancam, KBM SDN Kokap Direlokasi ke Eks SD Kanisius
- PKL Alun-Alun Wonosari di Taman Kuliner, Pedagang Lama Sambut Hangat
Advertisement
Advertisement



