Advertisement
E-Cak, Inovasi Becak Ramah Lingkungan dari Siswa SMA Purwokerto
Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Beijing periode 2022-2025 Yudil Chatim mencoba becak listrik berbasis energi surya yang ditumpangi Asisten Deputi Bidang Penyelenggaraan Sidang Kabinet Sekretariat Negara Sjahriati Rochmah di Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan (Puhua School), Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sabtu (25/4/2026). ANTARA - Sumarwoto
Advertisement
Harianjogja.com, PURWOKERTO — Inovasi transportasi ramah lingkungan lahir dari tangan pelajar. Seorang siswa kelas XI SMA 3 Bahasa Putera Harapan Purwokerto, Joseph Jefferson Setyako, bersama lima rekannya berhasil mengembangkan becak listrik bertenaga surya bernama E-Cak.
Karya tersebut dipamerkan dalam Forum Nasional Sekolah 3 Bahasa se-Indonesia bertema “Pendidikan Tanpa Perbedaan” yang digelar di Purwokerto, Sabtu. E-Cak hadir sebagai jawaban atas tantangan modernisasi transportasi sekaligus upaya mempertahankan eksistensi becak tradisional yang kian tergerus perkembangan zaman.
Advertisement
Kombinasi Tradisi dan Teknologi
Joseph menjelaskan, ide pengembangan becak listrik berangkat dari keprihatinan terhadap menurunnya minat masyarakat terhadap becak konvensional. Melalui inovasi ini, tim mencoba menggabungkan nilai kearifan lokal dengan teknologi masa kini.
BACA JUGA
“Becak tetap dipertahankan sebagai transportasi rakyat, tapi kami tambahkan teknologi agar lebih efisien dan ramah lingkungan,” ujarnya.
E-Cak memanfaatkan dinamo sebagai penggerak utama yang ditenagai sistem baterai. Untuk menekan biaya, rangka dasar menggunakan becak bekas yang dimodifikasi ulang.
Biaya Terjangkau, Teknologi Fungsional
Proyek ini tergolong ekonomis. Satu unit E-Cak dapat dibuat dengan biaya sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta. Komponen utama meliputi dinamo seharga Rp600 ribu, rangka bekas sekitar Rp600 ribu, serta empat baterai jenis lead acid dengan total biaya sekitar Rp1 juta.
Sistem tenaga menggunakan konfigurasi 48 volt dari empat aki. Meski ada opsi baterai lithium yang lebih efisien, tim memilih aki karena lebih terjangkau dan mudah didapat.
Untuk mendukung konsep energi bersih, E-Cak juga dilengkapi panel surya. Komponen ini berfungsi sebagai sumber pengisian daya tambahan yang memanfaatkan sinar matahari.
“Panel surya membantu menghemat listrik sekaligus membuat kendaraan lebih ramah lingkungan,” kata Joseph.
Performa dan Daya Jelajah
Dari sisi performa, E-Cak mampu melaju dengan kecepatan maksimum 30–40 km/jam. Dalam kondisi penuh, kendaraan ini dapat menempuh jarak sekitar 10–15 kilometer dengan kapasitas beban hingga 150 kilogram.
Pengisian daya membutuhkan waktu sekitar enam jam menggunakan listrik konvensional. Sementara melalui panel surya, pengisian hingga 80 persen memerlukan waktu sekitar 10 jam, tergantung intensitas matahari.
Menariknya, becak ini tetap bisa dikayuh secara manual jika daya baterai habis, sehingga fleksibel digunakan dalam berbagai kondisi.
Sentuhan Teknologi AI
Dalam proses pengembangan, tim juga memanfaatkan Artificial Intelligence untuk membantu riset dan perancangan desain. Meski demikian, seluruh tahap perakitan dan pengujian tetap dilakukan secara mandiri.
Proyek ini diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan, dengan pengerjaan dilakukan sepulang sekolah oleh seluruh anggota tim.
Harapan ke Depan
Joseph berharap E-Cak dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan transportasi tradisional berbasis teknologi di Indonesia. Selain ramah lingkungan, inovasi ini dinilai memiliki potensi ekonomi jika dikembangkan lebih lanjut.
“Harapannya, becak bisa tetap eksis, tapi dengan wajah baru yang lebih modern dan sesuai kebutuhan zaman,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement





