Advertisement
Kelenteng Tanpa Paku di Pecinan Semarang, Warisan Arsitektur Lampau
Kelenteng Hwie Wie Kiong di Pecinan Semarang berdiri tanpa paku sejak abad ke-18, menjadi warisan arsitektur Tionghoa yang masih terjaga. Solopos - Fitroh Nurikhsan
Advertisement
Harianjogja.com, SEMARANG—Di tengah padatnya kawasan Pecinan Semarang, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menyimpan keunikan luar biasa. Kelenteng Hwie Wie Kiong tetap kokoh hingga kini meski dibangun tanpa menggunakan satu pun paku besi, menjadi bukti kecanggihan arsitektur Tiongkok kuno yang melintasi ratusan tahun.
Kelenteng yang berlokasi di Jalan Sebandaran ini tidak hanya dikenal karena teknik konstruksinya, tetapi juga karena kekayaan seni ukir yang mendominasi hampir seluruh bagian bangunan. Setiap detail ukiran menghadirkan keindahan visual sekaligus nilai filosofis yang mendalam.
Advertisement
Dalam catatan sejarah, Kelenteng Hwie Wie Kiong telah berdiri sejak abad ke-18 hingga ke-19. Awalnya, bangunan ini difungsikan sebagai tempat ibadah eksklusif bagi keluarga besar Marga Tan di Semarang, sekaligus menjadi penanda eksistensi awal komunitas Tionghoa di wilayah tersebut.
“Dulu kelenteng ini memang khusus untuk keluarga Marga Tan. Barulah setelah 1985 dibuka untuk masyarakat umum,” ujar mantan ketua sekaligus penasihat pengurus Kelenteng Hwie Wie Kiong, Hadi Winarta, kepada Espos, Sabtu (7/2/2026).
BACA JUGA
Kelenteng Hwie Wie Kiong menghormati sosok dewa yang dikenal dengan kebijaksanaan dan keteduhan dalam mengambil keputusan. Nilai-nilai tersebut, menurut Hadi, tercermin dalam cara kelenteng membimbing umat, termasuk dalam menyikapi persoalan hukum maupun pertanahan.
Filosofi yang dipegang sederhana namun sarat makna, yakni menolong sesama secara bijak tanpa menimbulkan beban bagi pihak lain. Prinsip inilah yang kemudian mendorong pengurus membuka kelenteng untuk masyarakat luas.
Kini, Kelenteng Hwie Wie Kiong tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang belajar lintas budaya bagi siapa pun yang ingin mengenal sejarah serta warisan komunitas Tionghoa di Semarang.
Arsitektur Tradisional yang Tak Tertandingi
Keistimewaan utama Kelenteng Hwie Wie Kiong terletak pada arsitekturnya yang disebut tak tertandingi di Kota Semarang. Hampir seluruh permukaan bangunan dipenuhi ukiran khas Tiongkok dengan detail rumit dan pengerjaan yang halus.
“Seluruh struktur dirangkai tanpa paku besi, sambungan antarbagian hanya menggunakan tusukan bambu. Teknik tradisional ini menunjukkan kecanggihan arsitektur Tiongkok kuno,” ungkap Hadi.
Pada bagian atap, bubungan kelenteng menampilkan bentuk ekor walet yang merupakan ciri khas arsitektur Tiongkok Selatan. Sementara di depan pintu utama, sepasang patung Shi Zi atau singa jantan dan betina berdiri sebagai simbol keharmonisan sekaligus penjaga spiritual bangunan.
Setiap ornamen, termasuk ukiran naga yang melilit balok-balok kayu, tidak sekadar menjadi hiasan visual. Ornamen tersebut diyakini memuat doa, harapan, serta filosofi perlindungan dan keberkahan bagi pengunjung.
Tetap Terjaga Meski Berusia Ratusan Tahun
Meski telah berusia ratusan tahun, Kelenteng Hwie Wie Kiong masih mempertahankan sebagian besar elemen aslinya. Perawatan dilakukan secara hati-hati dan selektif, hanya pada bagian yang benar-benar membutuhkan penguatan demi menjaga fungsi serta keselamatan bangunan.
“Perbaikan terakhir pada 2022, misalnya tiang depan diganti dengan beton untuk memperkuat struktur bangunan,” jelas Hadi.
Di balik kelestarian fisiknya, kelenteng ini menghadapi tantangan regenerasi pengurus. Sejak pandemi, belum muncul generasi penerus yang aktif terlibat dalam pengelolaan, kondisi yang dikhawatirkan berdampak pada keberlanjutan perawatan kelenteng ke depan.
Meski demikian, minat masyarakat tetap tinggi. Banyak pengunjung datang tidak hanya untuk beribadah, tetapi juga untuk menikmati keindahan arsitektur serta mempelajari sejarah panjang komunitas Tionghoa di Pecinan Semarang yang masih hidup hingga kini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Espos
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Arab Saudi Izinkan RI Bangun Kampung Haji di Mekkah, Prabowo: Sejarah
Advertisement
India Deportasi 2 Turis Inggris yang Tempel Stiker Free Palestine
Advertisement
Berita Populer
- Sekolah Bantul Diminta Prioritaskan Jasa Lokal untuk Study Tour
- Go VHS 2026, Ajang Pameran Inovasi Gim hingga Kuliner Karya Siswa SMK
- Gerakan ASRI dan Jogja Berhati Nyaman Bakal Digelar Rutin Tiap Jumat
- Wali Kota Hasto Dorong PSIM Jogja Andalkan Pemain Lokal Jogja
- 70 Persen Warga Warungboto Jogja Terapkan Mas Jos
Advertisement
Advertisement



