Advertisement
BPBD: Plosorejo Zona Rawan, Warga Diminta Tetap Waspada
Rekahan tanah terjadi di jalan desa Plosorejo, Kecamatan Kerjo, Karanganyar pada Rabu (18/2 - 2026).
Advertisement
Harianjogja.com, KARANGANYAR — Fenomena pergerakan tanah kembali terjadi di Dukuh Plosorejo RT 002 RW 004, Desa Plosorejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar. Peristiwa yang kian meluas ini mengancam satu rumah warga serta sempat menggeser rabat jalan desa.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Karanganyar, Hendro Prayitno, mengatakan pihaknya telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemantauan. Berdasarkan hasil pengecekan, pergerakan tanah dipicu hujan lebat dengan durasi panjang yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.
Advertisement
Curah hujan tinggi menyebabkan genangan air dan membuat kondisi tanah menjadi jenuh hingga memicu penurunan serta pergeseran lapisan tanah.
“Di titik puncak terjadi penurunan sekitar 1,5 meter yang memanjang ke bawah kurang lebih 500 meter. Di bagian bawah juga terdapat pergeseran tanah sekitar 0,5 meter,” ujar Hendro, Rabu (18/2/2026).
BACA JUGA
Ia menjelaskan, pergerakan tanah ditandai dengan munculnya retakan memanjang selebar sekitar 10 sentimeter di sisi timur dan barat area terdampak. Akibatnya, rabat jalan desa ikut bergeser sekitar 0,5 meter dan memerlukan penanganan darurat.
Selain infrastruktur, satu rumah warga milik Sutarwo (46) turut terancam karena posisinya berada tepat di bawah area retakan. Rumah tersebut dihuni satu kepala keluarga dengan enam jiwa, termasuk dua kelompok rentan, yakni satu lansia dan satu balita.
Zona Rawan Sejak 2012
Hendro mengungkapkan, kawasan Plosorejo sebenarnya telah lama masuk zona rawan pergerakan tanah. Retakan kecil pertama kali terpantau sejak 2012 di area perkebunan dan terus berkembang hingga mendekati permukiman warga.
Pada 2017, sebanyak lima kepala keluarga telah direlokasi ke lokasi yang lebih aman dengan dukungan pendanaan dari APBD Kabupaten, APBD Provinsi, hingga APBN. Upaya mitigasi juga dilakukan pada 2022 melalui pembangunan saluran pembuangan air guna mencegah genangan dari area alas karet.
Namun, pada 2025 terjadi peremajaan tanaman karet oleh pihak PT Perkebunan Nusantara (PTPN) yang disertai penebangan pohon besar. Dalam proses tersebut, sejumlah saluran air tertutup sehingga kembali memicu genangan saat hujan deras.
“Pada Februari 2026 ini retakan kembali muncul di lokasi yang sama, terutama setelah hujan lebat dengan durasi lama,” jelas Hendro.
Ia menambahkan, jalan utama desa telah dibenahi secara gotong royong oleh warga bersama pemerintah desa sehingga kini sudah dapat dilalui dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Sementara itu, kondisi bangunan rumah warga yang terancam dilaporkan masih utuh tanpa retakan. Meski demikian, di sisi rumah terdapat rekahan tanah selebar sekitar 10 sentimeter dengan panjang kurang lebih 25 meter akibat patahan tanah.
BPBD Karanganyar telah melakukan kaji cepat serta pendataan di lokasi kejadian. Petugas juga memberikan arahan keselamatan kepada warga dan berkoordinasi dengan pemerintah desa serta pihak PTPN untuk membuka kembali saluran pembuangan air guna mengurangi genangan.
Edukasi kebencanaan turut diberikan kepada warga terdampak agar memahami langkah antisipasi jika terjadi pergerakan tanah susulan. Unsur TNI/Polri, perangkat kecamatan dan desa, relawan kebencanaan, serta masyarakat setempat terlibat dalam upaya penanganan.
“Nilai kerusakan dan kerugian hingga saat ini masih dalam tahap perhitungan,” kata Hendro.
Ia mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan berintensitas tinggi, mengingat potensi pergerakan tanah susulan masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : espos.id
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
- Musprov SMSI DIY Angkat Ketua Baru, Dorong Ekosistem Media Siber Sehat
- Kemenag DIY Gelar Pengamatan Hilal di Bantul, Ini Hasilnya
- Anggaran BPJS Rp42 Miliar, Gunungkidul Reaktivasi 6.000 Peserta PBI
- Waduk Sermo Kulonprogo Tawarkan Wisata Perahu dan Camping
- Viral Banjir dan Longsor Ngawen, 35 Warga Gunungkidul Mengungsi
Advertisement
Advertisement







