Advertisement

Usai Banjir Gunung Slamet, DLHK Jateng Telusuri Tumpukan Kayu di Tegal

Newswire
Rabu, 28 Januari 2026 - 18:47 WIB
Abdul Hamied Razak
Usai Banjir Gunung Slamet, DLHK Jateng Telusuri Tumpukan Kayu di Tegal Ilustrasi banjir - Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, SEMARANG — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah masih menelusuri sumber kayu-kayu yang berserakan di kawasan Pantai Larangan, Pantura Tegal, yang ramai diperbincangkan di media sosial. Material kayu tersebut diduga kuat terbawa banjir bandang dari wilayah hulu sungai di lereng Gunung Slamet.

Kepala DLHK Jateng Widi Hartanto menyampaikan, hasil identifikasi awal menunjukkan mayoritas kayu yang terdampar di pesisir merupakan jenis sengon. Menurutnya, kayu-kayu tersebut kemungkinan besar berasal dari lahan hutan rakyat atau area panen sengon, bukan dari kawasan hutan lindung.

Advertisement

“Namun kami tetap berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk memastikan asalnya. Dari pengamatan sementara memang banyak kayu sengon,” ujar Widi seusai mengikuti diskusi pertobatan ekologis di Rumah Uskup Pandanaran, Kota Semarang, Rabu (28/1/2026).

Ia menambahkan, tim masih memeriksa kemungkinan adanya kayu dari jenis lain, termasuk pinus yang biasanya berasal dari kawasan hutan lindung. Hingga kini, belum ditemukan indikasi keberadaan kayu pinus di lokasi.

“Ukuran kayu yang ditemukan relatif kecil, sebagian berupa ranting dan potongan batang. Untuk sementara belum terlihat adanya kayu pinus,” jelasnya.

Terkait dugaan pembalakan liar, Widi menegaskan belum ada temuan yang mengarah pada praktik penebangan ilegal. Meski begitu, pihaknya memastikan akan bertindak tegas jika hasil penelusuran di lapangan membuktikan adanya pelanggaran hukum.

“Saat ini tim dari Balai Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan juga masih melakukan pengecekan langsung di lokasi,” lanjutnya.

Widi juga menyinggung kondisi tutupan lahan di kawasan lereng Gunung Slamet yang meliputi wilayah Banyumas, Purbalingga, Tegal, Pemalang, dan Brebes. Ia mengakui adanya perubahan penggunaan lahan di sejumlah titik, namun menilai faktor tersebut bukan satu-satunya penyebab terjadinya banjir bandang dan longsor.

“Pemicu utamanya adalah hujan yang sangat ekstrem di wilayah puncak. Selain itu memang ada kawasan dengan tutupan lahan kurang dan kemiringan lereng yang tajam,” ungkapnya.

Sebelumnya, sebuah video yang beredar luas memperlihatkan tumpukan kayu di sepanjang Pantai Larangan, Pantura Tegal. Banyak pihak menduga kayu-kayu itu terseret banjir dari daerah hulu sungai di kaki Gunung Slamet.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, hujan deras pada Jumat (23/1/2026) memicu banjir dan tanah longsor di sedikitnya empat daerah sekitar Gunung Slamet, yakni Purbalingga, Tegal, Pemalang, dan Brebes.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : espos.id

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Menkeu Purbaya Rombak 36 Pejabat Eselon II, Terbanyak di Bea Cukai

Menkeu Purbaya Rombak 36 Pejabat Eselon II, Terbanyak di Bea Cukai

News
| Rabu, 28 Januari 2026, 21:17 WIB

Advertisement

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata Bunga Sakura Asia Jadi Tren, Ini 5 Destinasi Favorit 2026

Wisata
| Rabu, 28 Januari 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement