Advertisement
Bubur Samin Banjar Jayengan, Tradisi Ramadan yang Terus Hidup
Juru masak Masjid Darussalam Jayengan, Kecamatan Serengan, Solo, memasak bubur samin untuk dibagikan ke warga pada Kamis (19/2/2026). (Solopos - Dhima Wahyu Sejati)
Advertisement
Harianjogja.com, SOLO— Setiap sore selama bulan Ramadan, halaman Masjid Darussalam Jayengan di Jalan Gatot Subroto, Jayengan, Kecamatan Serengan, Kota Solo, selalu dipadati warga yang mengantre takjil. Aroma rempah yang khas menyeruak dari dapur masjid, menandai tradisi pembagian bubur samin yang telah berlangsung puluhan tahun.
Sekitar 1.500 porsi bubur samin disiapkan setiap hari untuk menu berbuka puasa. Aktivitas di dapur masjid bahkan sudah dimulai sejak pagi hari demi memastikan sajian hangat itu siap dibagikan tepat waktu.
Advertisement
Juru masak bubur samin, Subadi, mengatakan persiapan dimulai sejak pukul 08.00 WIB. Sejumlah ibu-ibu relawan lebih dulu meracik bumbu dan rempah-rempah sebagai kunci cita rasa bubur khas Banjar tersebut.
“Awalnya kami siapkan bahan-bahannya dulu. Ibu-ibu meracik bumbu dapur dan rempah-rempah sejak pagi,” ujar Subadi.
BACA JUGA
Rempah seperti cengkih, kapulaga, jintan, jahe, dan pala menjadi komponen utama yang memberi aroma kuat sekaligus rasa khas. Memasuki pukul 11.00 WIB, proses memasak dimulai. Air direbus hingga mendidih, kemudian sekitar 45 kilogram beras yang telah dicuci dimasukkan dan diaduk bersama racikan rempah.
Proses memasak dilakukan dalam dua tahap agar bubur matang merata. Pengadukan dilakukan bergantian selama berjam-jam demi mendapatkan tekstur lembut dan cita rasa yang menyatu sempurna.
“Selain rempah, ada aroma khas seperti kaldu ayam yang berasal dari minyak samin. Itu yang membuat rasanya berbeda,” jelas Subadi.
Dibagikan Gratis dan Inklusif
Selepas salat Asar, bubur samin panas dan gurih siap dibagikan. Warga datang membawa wadah atau rantang sendiri untuk menampung hidangan berbuka tersebut.
Wakil Ketua Yayasan Darussalam Surakarta, Noor Cholish, menyebutkan dari total sekitar 1.500 porsi, sebanyak 1.200 porsi dibagikan gratis untuk masyarakat umum. Sementara 200–300 porsi lainnya disediakan khusus bagi jemaah masjid sebagai takjil, lengkap dengan kopi khas Masjid Darussalam.
Tradisi ini terbuka untuk semua kalangan tanpa membedakan latar belakang. Warga nonmuslim pun dipersilakan menikmati bubur samin yang telah menjadi warisan budaya perantau Banjar di kawasan Jayengan sejak awal abad ke-20.
Berkat konsistensi takmir, relawan, dan dukungan masyarakat, Tradisi Bubur Samin Banjar di Jayengan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2025 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
“Ini menjadi kebanggaan sekaligus amanah bagi kami agar tradisi gotong royong ini terus hidup dan diwariskan lintas generasi,” kata Noor Cholish.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : espos.id
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Anak Tewas Diduga Dianiaya Ibu Tiri di Sukabumi, Ini Respons KemenPPPA
Advertisement
Wamenpar Dorong Prambanan Shiva Festival Jadi Agenda Unggulan
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement




